Thanksgiving Perayaan Dengan Sejarah Yang Kelam

Thanksgiving Perayaan Dengan Sejarah Yang Kelam

Thanksgiving Perayaan Dengan Sejarah Yang Kelam – Thanksgiving merupakan sebuah perayaan yang diperingati pada setiap hari Kamis minggu keempat di bulan November oleh penduduk Amerika Serikat. Pada perayaan ini mereka berkumpul bersama keluarga besar dan melakukan makan bersama sambil berdoa sebagai tanda terima kasih. Namun ternyata dibalik perayaan yang terkesan menyenangkan tersebut, terdapat sejarah yang tragis. Dimulai pada tahun 1614, koloni Inggris kembali pulang kampung dengan membawa penduduk asli Amerika sebgaai budaknya. Para koloni tersebut meninggalkan penyakit cacar air kepada penduduk asli Amerika ( suku Patuxet ), hingga hanya tersisa satu penduduk yang selamat yaitu Squanto. Squanto akhirnya mengajarkan bagaimana cara bercocok tanam dan menangkap ikan pada para koloni. Ia berperan pula menjadi negosiator antara koloni Inggris dengan suku Wampanoag. Mereka kemudian mengadakan upacara besar untuk menghormati jasa Squanto.

masa masa thanksgiving

Kabar mengenai adanya benua baru menyebar secepat angin di seluruh Inggris, sehingga mereka berbondong-bondong data ke Amerika. Mereka menganggap benua tersebut adalah milik umum karena tidak adanya pembatas. Koloni inipun kemudian merampas hak penduduk asli, berupa tanah dan mereka pun memperbudak penduduk tersebut. Suku Pequot tidak mau menerima keputusan damai yang dicetuskan oleh Squanto. Terjadilah perang besar antara Indian dengan koboi dan menjadi perang yang paling berdarah sepanjang sejarah penduduk Amerika. Pada tahub 1637 sekitar 700 pria, wanita, serta anak – anak Pequot merayakan festival Green Corn ( selanjutnya disebut sebagai Thanksgiving ).

Saat para penduduk kelelahan sehabis berperang dan berpesta dan tertidur, pasuka dari Inggris serta tentara Belanda mengepung suku Pequot. Lelaki dipukuli serta ditembak mati, anak-anak dan wanita bersembunyi didalam rumah karena ketakutan. Namun tanpa ampun, mereka dibakar hidup-hidup didalam persembunyiannya. “ A Day of Thanksgiving “ dinyatakan oleh gubernur Massachusetts Bay Colony sebagai hari berkabung sebab 700 pria, anak-anak serta wanita dibantai dengan tragis.

Semenjak saat itu, pembantaian terhadap suku Indian terus saja berlanjut. Perkampungan dan gereja di wilayah koloni menyatakan untuk merayakan “ Thanksgiving “. Saat perayaan berlangsung, suku Indian dipenggal dan kepalanya ditendang ke jalanan. Suku Wampanoags juga diperlakukan sama. Kepalanya bahkan tertancap di tiang Plymouth, dan dipamerkan
selama 24 tahun berturut-turut. Pembantaian ini terus menggila, beriringan dengan perayaan Thanksgiving di thaun berikutnya. Abraham Lincoln mengambil keputusan untuk menjadikan hari Thanksgiving sebagai hari libur nasional selama perang saudara tersebut berlanjut. Di hari yang sama, ia memberikan perintah pembantaian suku Sioux di Minessota.

Begitulah kira-kira mengapa Thanksgiving bisa terjadi. Sejarah yang selama ini dimunculkan adalah kesan bahwa hari peringatan tersebut adalah hari yang bahagia. Hal ini meresahkan guru-guru sejarah di Amerika Serikat. Sulitnya mengungkap kebenaran dari kisah ini dikarenakan banyak pihak yang ingin menutupi kisah kelam tersebut dan memberi kesan bahwa hari Thanksgiving sebagai hari perayaan yang bahagia. Hal ini menyakitkan bagi keturunan asli Indian-Amerika. Pada kenyataannya, inilah hari besar pembantaian yang dilakukan oleh sekelompok pendatang terhadap penduduk asli Amerika.